Rabu, 05 Mei 2010

Korban Nikotin

Diposting oleh Sun Un
Korban Nikotin Lampaui Korban Naziisme

Jakarta, Kompas - Penyair veteran Taufiq Ismail masih tetap galak. Acara peluncuran buku Tiada Kata Menyerah tentang perjalanan 20 Tahun Yayasan Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok 1990-2010 di Gedung Trisula Perwari, Menteng, Sabtu (1/5), yang monoton, menjadi hidup dengan pembacaan dua buah puisinya tentang rokok. Menteri Kesehatan Dr Endang Rahayu Sedyaningsih menyatakan, pidatonya menjadi ”kering” dibanding puisi dan orasi Taufiq.


Puisi pertama Taufiq berjudul ”Indonesia Keranjang Sampah Nikotin Dunia” terasa normatif. Namun, puisi keduanya tentang doa para pemimpin umum perusahaan rokok Indonesia amat mengentak karena bernada keras dan amat sinis mengkritik ketidakberdayaan Pemerintah Indonesia melindungi rakyatnya dari bahaya asap rokok.

”Kita patut bersyukur karena para pejuang revolusioner yang merelakan nyawanya untuk rokok di negeri ini terus bertambah. Indonesia adalah negara dengan kematian terbesar ketiga karena asap rokok setelah China dan Amerika Serikat yaitu 400.000 jiwa per tahun,” ujar Taufiq.

Dia memuncaki puisi keduanya dengan orasi tentang bahaya ”nikotinisme” yang melampaui gabungan Naziisme dan komunisme. ”Saat ini rata-rata kematian akibat nikotin di dunia mencapai empat juta jiwa per tahun, sementara Naziisme tahun 1933-1945 dan komunisme dunia hanya 3,7 juta jiwa per tahun.”

Menkes Endang, dalam sambutannya, menegaskan, ia tidak menjanjikan hasil bagi upaya penanggulangan bahaya merokok, tetapi ia menjanjikan upaya maksimal walaupun menghadapi banyak tantangan.
Read More

Selasa, 04 Mei 2010

Desak Pembebasan Jafar Panahi dari Penjara Iran

Diposting oleh Sun Un
Sutradara Hollywood Desak Pembebasan Jafar Panahi dari Penjara Iran
TEMPO Interaktif, California -Sutradara Hollywood, termasuk Steven Spielberg dan Martin Scorsese meminta pemerintah Iran melepas sutradara terkenal Iran, Jafar Panahi. Petisi itu juga ditandatangani Robert de Niro, Robert Redford dan Francis Ford Coppola.

"Kami bergabung dalam solidaritas untuk sang sutradara Iran," tulis petisi itu. Panahi yang melahirkan film-film realis yang mengkritik rezim Iran ditahan 1 Maret lalu.

Petisi itu menyebut para sineas dan aktor Hollywood "dengan kuat mendesak pemerintah Iran membebaskan Panahi secepatnya."

Panahi dan 15 tamunya, sebagian besar orang-orang film, ditangkap di rumahnya di Teheran. Rekan Panahi yang juga sutradara terkenal, Mohammad Rasoulof, turut ditahan. Mereka saat itu tengah membicarakan rencana produksi film.


Tak jelas apa kesalahan sutradar yang pernah meraih penghargaan internasional dalam festival film Cannes, Berlin, dan Chicago itu. Jaksa Abbas Jafari Dowlatabadi mengatakan bahwa penangkapan Panahi tak ada hubungannya dengan profesinya maupun karena alasan politik, tapi karena »pelanggaran tertentu”. Jafari tak menyebut pelanggaran yang dimaksud.

Penangkapan ini sekaligus melengkapi penangkapan sejumlah artis yang mendukung gerakan oposisi yang dipimpin Mir Hossein Mousavi. Penyanyi Shahram Nazeri ditangkap Desember lalu. Fotografer Mehraneh Atashi dipenjara sejak Januari lalu.

Panahi pernah ditahan ketika menghadiri pemakaman Neda Agha Soltan, seorang mahasiswa yang tewas dalam rangkaian aksi demonstran kalangan oposisi Juni tahun lalu. Ia juga pernah mengenakan scarf hijau dalam Festival Film Montreal--hijau dikenal sebagai warna oposisi—untuk menunjukkan dukungannya pada gerakan Mousavi dan kawan-kawan.

Sebenarnya kritik-kritik Panahi, 49 tahun, terhadap rezim Iran sudah ia mulai jauh sebelum munculnya kisruh politik pasca pemilu tahun lalu. Bedanya, kritik Panahi ia ungkapkan lewat film-film bertema realis. Salah satu yang terkenal adalah film Offside (2006) yang dilarang pemerintah Iran. Film ini menang dalam Festival Film Berlin pada 2006.

Offside bercerita tentang perempuan Iran yang dilarang menonton bola di stadion. Film yang dibuat secara diam-diam inilah yang kembali disebut beberapa media sebagai salah satu hal yang membuat marah pemerintah Teheran.
Read More